Rabu, 20 Juli 2016

KAJIAN PERBEDAAN SPAP DENGAN ISA



Iseng-iseng buka google cari tentang Audit, ketemu Postingan ini. sangat bermanfaat dan sengaja saya lanjutkan di Blog saya.

Tulisan ini adalah hasil karya dari "Alm. Priyo Darmawan SE.Ak.MA", beliau adalah salah satu Dosen Audit di STEI indonesia yang menurut saya lain dari yang lain diantara dosen lain di kampus tersebut, intinya hanya mereka yang ingin mengerti saja yang akan paham tentang proses pengajarannya beliau. Dua semester mendapat pengajaran dari beliau, cukup memberikan pemahaman kepada saya mengenai Audit, dan akan saya bawa terus ilmu yang telah diajarkan (ilmu yang bermanfaat tidak akan putus) . dan Semoga Amal Ibadah Beliau diterima di sisi Allah SWT. Amin.




Abstract :

International Standard on Audits (ISA) are targeted for convergence with existing auditing   standard   applied   in   other   countries   including   Indonesia..   However,   until convergence efforts are conducted up to now, there are five aspects for which differences currently exit among SPAP (GAAS translation) and ISA.

Last but not least, this view is aimed to be aware of   students who learning professional auditing dan understand these differences.

Key words : ISA, GAAS, convergence, SPAP, SA




Pendahuluan

Munculnya skandal-skandal keuangan yang terjadi di Indonesia akibat kecurangan yang dilakukan dalam penyajian laporan keuangan tidak kalah maraknya dengan skandal- skandal   di   lingkupan   internasional.   Meskipun   tidak   seluruhnya   disebabkan   karena kecurangan  yang disengaja, namun salah saji  yang terjadi dalam laporan keuangan juga memberikan  dampak  pada  seluruh  pihak  yang  berkepentingan  menggunakan  laporan. Bahkan fraud (kecurangan) yang dilakukan dalam laporan keuangan dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi investor, kreditor, dan auditor sendiri. Oleh karena itu, untuk memastikan agar laporan keuangan terbebas dari salah saji material, diperlukan pemeriksaan akuntansi yang dilakukan oleh auditor sebagai pihak independen.

Pemeriksaan akuntansi atau auditing menurut Arens, Elder & Beasley, 2009 adalah proses akumulasi dan evaluasi bukti mengenai informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat hubungan   antara informasi dan  standar atau kriteria yang berlaku. Auditing harus dilakukan  oleh  pihak  yang  independen.  Karena  kepercayaan  yang  diberikan  oleh  para pemakai yang berkepentingan kepada auditor, seperti investor, kreditor, pemerintah, bank, dan  stakeholders  lainnya  baik  internal  maupun  eksternal,  maka  auditor  harus  dapat


menghasilkan kualitas audit yang baik yang dapat diandalkan. Untuk dapat menghasilkan kualitas audit yang baik, auditor bertanggung jawab merencanakan dan melaksanakan audit demi mendapatkan kepastian bahwa laporan keuangan tidak mengandung kesalahan material yang disebabkan oleh kecurangan maupun kekeliruan (Auditing Standard Boards, 2011). International Standards on Audit  (ISA) atau Standar Audit
200-299
Prinsip-prinsip    umum    dan    tanggung jawab
700-720
Kesimpulan audit dan pelaporan
ISA/SA 200
Tujuan keseluruhan auditor dan pelaksanaan
suatu  audit  berdasarkan  standar  perikatan audit
ISA/SA 700
Perumusan  suatu  opini dan  pelaporan  atas
laporan keuangan
ISA/SA 210
Persetujuan   atas   syarat-syarat   perikatan
audit
ISA/SA 705
Modifikasi  terhadap  opini  dalam  laporan
auditor independen
ISA/SA 220
Pengendalian mutu untuk audit atas laporan
keuangan
ISA/SA 706
Paragraf penekanan suatu hal dan paragraf
hal lain dalam laporan auditor independen
ISA/SA 230
Dokumentasi audit
ISA/SA 710
Informasi  komparatif-angka  korespondensi
dan laporam keuangan komparatif
ISA/SA 240
Tanggung   jawab   auditor   terkait   dengan
kecurangan dalam suatu audit atas laporan keuangan
ISA/SA 720
Tanggung jawab auditor atas informasi lain
dalam    dokumen    yang    berisi    laporan keuangan auditan
ISA/SA 250
Pertimbangan   atas   peraturan   perundang-
undangan dalam audit laporan keuangan


ISA/SA 260
Komunikasi dengan pihak yang bertanggung
jawab atas tata kelola
500 - 580
Bukti audit
ISA/SA 265
Pengkomunikasian        defisiensi        dalam
pengendalian internal kepada pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola dan manajemen
ISA/SA 500
Bukti audit


ISA/SA 501
Bukti  audit  –  pertimbangan  spesifik  atas
unsur pilihan
300-450
Penilaian  risiko  dan  respons  terhadap risiko yang telah dinilai
ISA/SA 505
Konfirmasi eksternal
ISA/SA 300
Perencanaan    suatu    audit    atas    laporan
keuangan
ISA/SA 510
Perikatan audit tahun pertama – saldo awal
ISA/SA 315
Pengindentifikasian   dan   penilaian   risiko
salah saji material melalui pemahaman atas entitas dan lingkungannya
ISA/SA 520
Prosedur analistis
ISA/SA 320
Materialitas     dalam     perencanaan     dan
pelaksanaan audit
ISA/SA 530
Sampling audit
ISA/SA 330
Respons auditor terhadap risiko yang telah
dinilai
ISA/SA 540
Audit   atas   estimsai   akuntansi,   termasuk
estimasi     akuntansi     nilai     wajar,     dan pengungkapan yang bersangkutan
ISA/SA 402
Pertimbangan  audit  terkait  dengan  entitas
yang menggunakan suatu organisasi jasa
ISA/SA 550
Pihak berelasi
ISA/SA 450
Pengevaluasian    atas    salah    saji    yang
diidentifikasi selama audit
ISA/SA 560
Peristiwa kemudian


ISA/SA 570
Kelangsungan usaha
600-620
Penggunaan pekerjaan pihak lain
ISA/SA 580
Representasi tertulis
ISA/SA 600
Pertimbangan   khusus-audit   atas   laporan
keuangan grup termasuk pekerjaan auditor komponen


ISA/SA 610
Penggunaan pekerjaan auditor internal
800-810
Area-area khusus
ISA/SA 620
Penggunaan pekerjaan seorang pakar auditor
ISA/SA 800
Pertimbangan   khusus-audit   atas   laporan
keuangan   yang   disusun   sesaui   dengan kerangka bertujuan khusus


ISA/SA 805
Pertimbangan  khsusu-  audit  atas  laporan
keuangan tunggal dan unsur, akun atau pos spesifik dalam suatu laporan keuangan





ISA/SA 810
Perikatan untuk melaporkan ikhtisar laporan
keuangan



Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP)

SA 100
Pernyataan standar auditing pengantar
SA 400
Standar pelaporan pertama, kedua dan ketiga
110
Tanggung jawab & fungsi auditor independen
410
Kepatuhan  terhadap  standar  akuntansi  keuangan  di
Indonesia
150
Standar auditing
412
Penggunaan frasa “standar akuntansi keuangan entitas
tanpa akuntabilitas publik”
161
Hubungan   antara   standar   auditing   dengan
standar pengendalian mutu
413
Makna frasas standar akuntansi keuangan di Indonesia


420
Konsistensi penerapan standar akuntansi keuangan di
Indonesia
SA 200
Standar umum
431
Pengungkapan memadai dalam laporan keuangan
201
Sifat standar umum
435
Pelaporan auditor atas informasi segmen
210
Pelatihan dan keahlian auditor independen


220
Independensi
SA 500
Standar pelaporan keempat
230
Penggunaan    kemahiran    profesional    dengan
cermat    dan    seksama    dalam    pelaksanaan pekerjaan auditor
504
Pengaitan nama auditor dengan laporan keuangan


508
Laporan auditor atas laporan keuangan auditan
SA 300
Standar pekerjaan lapangan
530
Pemberian tanggal atas laporan auditor independen
310
Penunjukan auditor independen
534
Pelaporan atas laporan keuangan yang disusun untuk
digunakan di negara lain
311
Perencanaan & supervisi
543
Bagian audit dilaksanakan oleh auditor independen lain
312
Risiko audit & materialitas dalam pelaksanaan
audit
544
Ketidaksesuaian dengan standar akuntansi keuangan di
Indonesia
313
Pengujian substantif sebelum tanggal neraca
550
Informasi  lain  dalam  dokumen  yang  berisi  laporfan
keuangan audit\an
314
Penentun    risiko    &    pengendalian    intern-
pertimbangan  &  karakteristik  sistim informasi komputer
551
Pelaporan  tentang  informasi  yang  melampiri  laporan
keuangan pokok dalam dokumen yang diserahkan oleh auditor
315
Komunikasi  antara  auditor  pendahulu  dengan
auditor pengganti
552
Pelaporan  atas  laporan  keuangan  ringkasan  dan  data
keuangan pilihan
316
Pertimbangan   atas   kecurangan   dalam   audit
laporan keuangan
558
Informasi tambahan yang diharuskan
317
Unsur tindakan pelanggaran hukum oleh klien
560
Peristiwa kemudian
318
Pemahaman bisnis klien
561
Penemuan  kemudian  fakta  yang  ada  pada  tanggal
laporan auditor
319
Pertimbangan pengendalian intern dalam audit
laporan keuangan


320
Surat perikatan audit
SA 600
Tipe-tipe lain laporan
322
Pertimbangan  auditor  atas  fungsi  audit  intern
dalam audit laporan keuangan
622
Perikatan untuk menerapkan prosedur yang disepakati
atas  unsur,  akun  atau  pos  tertentu  dsalam  laporan keuangan
323
Perikatan audit tahun pertama-saldo awal
623
Laporan khusus
324
Pelaporan    atas    pengolahan    transaksi    oleh
organisasi jasa
625
Laporan tentang penerapan prinsip akuntansi
325
Komunikasi masalah yang berhubungan dengan
pengendalian   intern   yang   ditemukan   dalam suatu audit
634
Surat untuk penjamin emis dan pihak tertentu lain yang
meminta
326
Bukti audit


327
Tehnik audit berbantuan komputer


329
Prosedur analitis
SA 700
Topik khusus
330
Proses konfirmasi
710
Pertimbangan khusus dalam audit bisnis kecil
331
Persediaan
722
Informasi keuangan interim
333
Representasi manajemen


334
Pihak yang memiliki hubungan istimewa
SA 800
Audit kepatuhan
335
Auditng   dalam   lingkungan   sistim   informasi
komputer
801
Audit    kepatuhan    yang    diterapkan    atas    entitas
pemerintahan  dan  penerima  lain  bantuan  keuangan pemerintah
336
Penggunaan pekerjaan spesialis





337
Permintaan  keterangan  dari  penasehat  hukum
klien


339
Kertas kerja


341
Pertimbangan  auditor  atas  kemampuan  entitas
dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya


342
Audit atas estimasi akuntansi


343
Ligkungan  sistem  informasi  komputer  Mikro
berdisi sendiri


344
Lingkungan sistem informasi komputer on-line
computer system


345
Lingkungan sistem informasi komputer database
system


350
Sampling audit


360
Komunikasi dengan manajemen


380
Komunikasi dengan komite audit


390
Komunikasi   dengan   auditor   utama   dengan
auditor lain





SPAP versus ISA

Diketahui banyak perbedaan diantara   ISA atau SA versi Indonesia   dan GAAS di Amerika atau SPAP versi Indonesia,   menurut AICPA.org/FRC dan menurut Linberg & Seifert bahwa terdapat 5 perbedaan yang signifikan antara lain :
(a)  Dokumentasi prosedur audit.

Secara konseptual bahwa dokumentasi prosedur audit antara SPAP dengan ISA  atau  Standar  Audit  berbeda.  Pada  ISA  atau  SA  lebih  menekankan  kepada kearifan profesional (professional judgement). Secara spesifik pada ISA 230 paragraf
14 mensyaratkan auditor untuk menyusun dokumentasi audit didalam suatu berkas audit dan melengkapi proses administratif penyusunan berka audit final tepat waktu setelah  tanggal  laporan  auditor,  dan  penerapan   yang  terkait  serta   penjelasan materialitas  yang  mengindikasikan  bahwa  batas  waktu  penyelesaian  penyusunan berkas audit final biasanya tidak lebih dari 60 hari setelah tanggal laporan aduitor. Paragraf 15 pada ISA 230 juga mensyaratkan setelah penyusunan audit final telah selesai, maka auditor tidak boleh memusnahkan dokumentasi audit sebelum periode retensi berakhir.  Periode retensi daripada kertas kerja juga berbeda pada SPAP versus ISA.


Pada   ISA 230 mengenai dokumentasi audit dinyatakan bahwa bagi kantor akuntan publik harus menetapkan kebijakan dan prosedur untuk retensi dokumentasi penugasan. Biasanya periode retensi penugasan audit kurang dari lima tahun sejak tanggal   laporan   auditan   atau   tanggal   laporan   auditan   kelompok   perusahaan, sedangkan pada SPAP bahwa periode retensi paling sedikit tujuh tahun. Menurut SPM 1 paragraf 47 dan ISA 230 paragraf A23 menuntut KAP untuk menetapkan suatu kebijakan dan prosedur yang mengatur masa penyimpanan dokumen penugasan atau perikatan. Batas waktu penyimpanan pada umumnya tidak boleh dari lima tahun sejak tanggal yang lebih akhir dari laporan auditor atas laporan keuangan entitas atau laporan auditor atas laporan keuangan konsolidasian entitas dan perusahaan anak. Paragraf 17 ISA 230 mensyaratkan bahwa setelah tanggal penyelesaian dokumentasi. Auditor tidak boleh memusnahkan dokumentasi  audit sebelum akhir dari periode retensi yang bersangkutan.
(b)  Pertimbangan kelangsungan usaha (going-concern).

Ketika mempertimbangkan apakah suatu entitas berkemampuan untuk melanjutkan kelangsungan usahanya dimasa depan, ISA tidak membatasi paling sedikit 12 bulan, sedangkan SPAP membatasi hingga 12 bulan setelah akhir periode pelaporan.
Pada ISA 570 mengasumsikan bahwa manajemen mempunyai tanggung jawab untuk menilai kemampuan entitas untuk melangsungkan usahanya sebagai “goimng concern” tanpa mempertimbangkan apakah kerangka pelaporan keuangan yang diterapkan oleh manajemen atau tidak. Salah satu dari tujuan ISA 570 yaitu untuk memperoleh bukti audit yang memadai terkait dengan penggunaan asumsi “going concern” oleh manajemen. Pada SPAP juga mensyaratkan bahwa auditor harus mengevaluasi apakah ada keraguan yang substansial mengenai kelangsungan usaha


entitas untuk periode waktu yang memadai. Dengan demikian, ISA 570 menetapkan pertimbangan asumsi kelangsungan usaha seluruh penugasan atau perikatan.
(c)  Penilaian dan pelaporan pengendalian internal atas pelaporan keuangan.

Menurut ISA  bahwa penilaian dan pelaporan pengendalian internal tidak ada kaitannya dengan efektifitas pengendalian internal klien yang diaudit akan tetapi lebih menekankan kepada relevansinya dimana hal tersebut terlihat pada laporan auditornya...........In making those risk assessment, auditor considers internal control relevant to the entity’s preparation dan fair prsentation of the financial statements in order to design audit procedures, that are appropriate in the circumstances , but not for the purpose of expressing an opinion on the effectiveness of the entity’s internal control”..... sedangkan SPAP mengkaitkan penilaian dan pelaporan pengendalian internal dengan efektifitasnya. Menurut ISA juga mensyaratkan auditor harus menguji pengendalian internal  entitas yang diauditnya guna memastikan bahwa sistem yang diterapkan adalah mencukupi dan berfungsi sebagaimana  yang ditetapkan.

(d)  Penilaian dan respons terhadap risiko terhadap risiko yang dinilai.

ISA mensyaratkan prosedur penilaian risiko tertentu agar diperoleh suatu pemahaman  yang lebih  luas  mengenai  suatu  entitas  dan  lingkungannya,  tentunya dengan tujuan untuk mengidentifikasi risiko salah saji material. Lebih lanjut ISA mensyaratkan auditor   harus memperoleh suatu pemahaman risiko bisnis entitas misalnya risiko operasi dan risiko strategis. Auditor mengikuti ISA harus juga menetapkan   bagaimana kliennya merespons terhdap risiko semacam sebagaimana auditor merencanakan dan melakukan audit. Lebih lanjut, auditor diharuskan mengajukan  pertanyaan  kepada  auditor  internal  entitas  yang  diauditnya,  dengan tujuan  memperoleh  pemahaman  suatu  pemahaman  yang  lebih  baik  atas  keahlian entitas dalam menilai risiko. Auditor juga harus memperoleh seluruh informasi yang


terkait dengan risiko sama halnya dengan respons klien dalam menilai risiko salah saji material, termasuk pemahaman atas pengendalian internalnya, sedangkan SPAP tidak sekomprehensif ISA.
(e)  Penggunaan auditor lain untuk bagian suatu audit.

Dalam penggunaan auditor pengganti atau auditor lain, ISA tidak mengijinkan auditor utama menggunakan referensi hasil audit daripada auditor lain. Sedangkan SPAP membolehkan auditornya mempunyai opsi untuk menerbitkan laporan audit yang dikatakan sebagai “division of responsibility”. Dengan kata lain merujuk kepada laporan dan kertas kerja auditor lain atau sebelumnya dalam laporan auditor yang diterbitkan.



Kesimpulan

Oleh karena Indonesia  telah melakukan konvergensi terhadap  IFRS (International Financial Reporting Standard)  yang telah diterbitkan dengan  nama SAK Juni 2013, dan dengan adanya penerbitan ISA (International Standard on Audit) tahun 2013 di Indonesia dengan nama SA (Standar Audit), maka auditor harus mempertimbangkan pengaruh diterbitkannya  ISA  atas  SA  yang  diharapkan  memperoleh  akseptasi  seluruh  dunia  atas laporan audit yang diterbitkannya dan mengarah kepada transparansi.


Kepustakaan

Auditing Standard Board, 2011

IFAC, International Standard on Audit, 2010, http://www.ifac.org.id

IFAC,  International   Standard   on   Audit   315   (Revised),   after   15   December   2013,


IAPI, Standar Profesional Akuntan, 31 Maret 2011,  Penerbit Salemba Empat

Linberg, Seifert, Moving Toward Convergence-A Comparison of US Auditing Standard with

International Standards on Auditing, CPA Journal April 2011


Tuanakotta, Audit Berbasis ISA, 2013, Penerbit Salemba Empat

https://www.academia.edu/6549517/KAJIAN_PERBEDAAN_SPAP_DENGAN_ISA

Identifikasi Risiko Bawaan (Audit) Berbasis "ISA"

ISA 240 alinea 10

Tujuan Auditor adalah :

  1. Mengidentifikasi dan menilai risiko salah saji yang material dalam laporan keuangan yang disebabkan oleh kecurangan;
  2. Memeperoleh bukti audit yang cukup dan tepat mengenai risiko salah saji material yang dinilai, yang disebebkan oleh kecurangan, dengan merancang dan mengimplementasi tanggapan yang tepat; dan
  3. Menanggapi dengan tepat kecurangan atau dugaan mengenai kecurangan yang diidentifikasi selama audit berlangsung.

ISA 315 alinea 3

  1. Tujuan Auditor adalah mengidentifikasi dan menilai risiko salah saji yang material, yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan, pada tingkat laporan keuangan dan tingkat asersi, melalui pemahaman tentang entitas dan lingkungannya, termasuk pengendalian internnya, yang akan membrikan dasar untuk merancang dan mengimplementasi tanggapan terhadap risiko salah saji material yang dinilai.

ISA 200 alinea 13

Untuk tujuan ISAs, istilah-istilah berikut mempunyai makna, diantaranya:

Risk of material misstatement (Risiko salah saji yang material) : Risiko dimana laporan keuangan disalahsajikan secara material, sebelum audit dilakukan. Risiko ini terdiri atas dua komponen, dijelaskan sebagai berikut pada tingkat asersi :

  • Inherent risk (risiko bawaan) : Kerentanan asersi mengenai jenis transaksi, saldo akun atau pengungkapan (disclosure) terhadap salah saji yang dapat (bersifat) material, secara terpisah/ sendiri-sendiri atau secara tergabung/ agregat dengan salah saji lainnya, sebelum memperhitungkan pengendalian terkait (atau pengendalian yang dimaksud untuk mengatasi atau memitigasi risiko bawaan)
  • Control risk (risiko pengendalian) : Risiko dimana salah saji dapat terjadi dalam asersi mengenai jenis transaksi, saldo akun atau pengungkapan (disclosure) dan bisa (bersifat) material, secara terpisah/ sendiri-sendiri atau secara tergabung/ agregat dengan salah saji lainnya, yang tidak dapat dicegah, atau di deteksi dan di koreksi, pada waktunya oleh pengendalian intern entitas.




Rabu, 13 Juli 2016

Istilah - istilah dalam Dunia Ekspor Impor

Shipper adalah nama lain dari exporter atau pengirim barang. Istilah shipper ini akan selalu di pakai sebagai pengganti kata exporter / pengirim barang./ penjual.

Consignee adalah nama lain dari importer atau penerima barang. Istilah ini akan selalu dipakai sebagai pengganti kata importer / penerima barang / pembeli.
Notify Party adalah pihak ketiga selain Consignee yang mengetahui adanya sebuah pengiriman barang.

Vessel adalah Kapal

Voyage / Voy. Adalah nomor pengapalan

Shipping Marks & Numbers adalah keterangan yang tertera atau tertulis dalam kemasan barang

Descriptions of Goods adalah deskripsi barang

Gross Weight / G.W. adalah berat kotor barang

Net Weight / N.W. adalah berat bersih barang tanpa kemasan

Shipping Schedule adalah Schedule Keberangkatan Kapal / Pesawat

Warehouse adalah Gudang tempat penumpukan barang yang dikirim dengan tidak menggunakan container

UTPK adalah Unit Tempat Penumpukan Peti Kemas

DEPO adalah tempat penumpukan container kosong

Delivery Order / DO adalah Surat yang diterbitkan pihak shipping atau forwarder kepada shipper sebagai tanda bukti pengambilan container kosong dan atau tanda bukti pengiriman barang dari gudang shipper ke UTPK atau Warehouse.

Stuffing / Loading adalah proses pemuatan barang export kedalam container atau truck angkutan (berlaku untuk kegiatan export).

UnStuffing / Unloading adalah proses pembongkaran dari dalam container atau truck angkutan (berlaku untuk kegiatan import)

Feeder Vessel adalah Kapal pengangkut dari pelabuhan muat ke pelabuhan transit. Jenis kapal ini kecil hanya muat untuk mengangkut 3000an kontainer

Mother Vessel adalah Kapal pengangkut / kapal besar yang mengangkut muatan dari pelabuhan transit ke pelabuhan tujuan diseluruh penjuru dunia

Open Stack ( O/S ) adalah waktu dibukanya container / barang boleh di tempatkan di UTPK atau warehouse

Closing Time ( C/T ) adalah waktu ditutupnya pemasukan / penumpukan barang di UTPK atau warehouse.

ETD adalah Estimated Time of Departure yaitu Waktu Perkiraan Keberangkatan Kapal / Pesawat dari pelabuhan muat

ETA adalah Estimated Time of Arrival yaitu Waktu Perkiraan Kedatangan Kapal / Pesawat

LCL adalah Less than Container Loaded yaitu system pengiriman barang tanpa menggunakan container atau dengan kata lain pengiriman barang yang kapasitasnya dibawah standar kapasitas muat container.

FCL adalah Full Container Loaded yaitu Pengiriman Barang dengan Menggunakan Kontainer.

Part Of Shipment adalah Pengiriman Barang menggunakan 1 kontainer dimana didalam container tersebut terdiri dari berapa nama shipper namun dengan tujuan satu Consignee.

Dry Container adalah container kering / standar yang digunakan untuk mengirim barang2 biasa yang tidak berbahaya dan bukan merupakan barang gas atau cair. COntohnya mebel, handicraft, garment, …etc

Reefer Container adalah container yang memiliki pengatur suhu. Biasa digunakan untuk pengiriman produk makanan seperti Ikan hidup, Udang Hidup, buah-buahan, sayur-sayuran..dll

Open Top Container adalah Kontainer yang bagian atasnya bisa dibuka / terbuka. Kontainer ini dgunakan untuk pengiriman barang yang tingginya melebihi standar ketinggian container DRY.

Flat Rack Container adalah container yang bagian samping kanan dan kirinya terbuka. Kontainer ini digunakan untuk memuat barang yang lebarnya melebihi standar lebar container DRY.

Space adalah tempat yang tersedia didalam kapal

Booking adalah istilah untuk pemesanan tempat

Shipping Instructions adalah surat pengajuan pengiriman barang yang diterbitkan oleh shipper

Ocean Freigh ( O/F ) adalah biaya pengiriman barang dengan menggunakan kapal laut

Air Freight ( A/F ) adalah biaya pengiriman barang dengan menggunakan pesawat

F.O.B adalah Free On Board adalah system pembelian barang dimana semua biaya Pengiriman atau O/F , Asuransi dan harga barang dibayarkan setelah kapal sampai atau di pelabuan bongkar

C.I.F adalah Cost Insurance & Freight adalah system pembelian barang dimana Biaya Pengiriman, Asuransi dan Harga barang dibayarkan sebelum kapal berangkat / di pelabuhan muat

C & F adalah Cost and Freight adalah system pembelian barang dimana Biaya Pengiriman dan Harga Barang di bayarkan di pelabuhan muat namun asuransi menjadi tanggungan Penerima Barang.

Freight Prepaid adalah Sistem pembayaran biaya pengiriman barang di pelabuhan muat

Freight Collect adalah Sistem pembayaran biaya pengiriman barang di pelabuhan bongkar

Bill Of Lading atau B/L adalah Surat / Dokumen yang diterbitkan oleh Shipping Line / Freight Forwarder untuk setiap pengiriman barang Export. Bill Of Lading ini di terbitkan pada tanggal keberangkatan Kapal. Bill Of Lading ini nantinya akan diberikan kepada consignee untuk mengambil barang di tempat tujuan (pengambilan import). Fungsi dari Bill Of Lading ini sangat banyak. Selain sebagai bukti pengambilan barang di tujuan, juga dilampirkan dalam proses pembuatan COO.

Air Way Bill / AWB fungsi dan kegunaannya adalah sama dengan Bill Of Lading. Namun AWB ini khusus untuk pengiriman barang via Udara.

Certificate of Origin adalah Sertifikat Asal Barang. Diterbitkan oleh DISPERINDAG kepada  exporter. Kegunaannya adalah sebagai bukti keaslian barang dari Negara Asal yang tertera  pada Bill Of Lading

Packing List adalah Daftar Sistem Pengepakan. Packing List ini diterbitkan oleh setiap exporter setiap kali akan export. Data2 Packing List inilah yang akan di muat pada Bill of Lading maupun AirWayBill. Packing List berisikan data2 Nama dan alamat Shipper, Nama dan Alamat Consignee, Nama dan Alamat Notify Party (jika ada), Nama Barang, Jumlah dan Jenis Kemasan, Jumlah barang, Berat Bersih / Net Weight, Berat Kotor / Gross Weight, Kubikasi, Shipping Marks & Numbers / Keterangan yang tertulis pada kemasan, Nama Vessel, Pelabuhan Muat, Pelabuhan Bongkar.

Comemrcial Invoice adalah Daftar Nilai / Harga Barang yang tercantum dalam Packing List. Commercial Invoice ini berisikan nilai barang per item dan total nilai barang. Bill Of Lading, Packing List dan Commercial Invoice adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam proses Export dan Import atau bisa dikatakan ketiga dokumen ini adalah 1 set dokumen Export / Import.

P.O.L adalah Port Of Loading yaitu Pelabuhan Muat

P.O.D adalah Port of Discharge yaitu Pelabuhan Bongkar

Place of Delivery yaitu Tujuan akhir Pengiriman Barang

Place of Receipt yaitu Tempat Penerimaan Barang

Customs Clearance adalah proses administrasi pengiriman dan atau pengeluaran barang ke / dari Pelabuhan muat / Bongkar yang berhubungan dengan Kepabeanan dan administrasi pemerintahan.

Measurement / Cubication / CBM adalah ukuran kubikasi suatu barang export baik itu. Perhitungan Kubikasi ini sangat penting dikuasai oleh para exporter untuk menentukan jenis pengirimannya. Apakah menggunakan Kontainer 20ft, 40ft,40HQ atau 45ft. Atau apabila menggunakan truck apakah akan dikirimkan dengan menggunakan truck tronton, truck angkel, truck box / diesel atau truck built up.

Contoh :
Shipper berada di Cirebon ingin mengirim barang ke Dallas, TX USA. Maka :
Place Of Receipt adalah Cirebon
P.O.L nya adalah Tg. Priok, Jakarta

P.O.D nya adalah salah satu Pelabuhan di East Coast atau West Coast USA(tergantung service dari Shipping Line). Contoh salah satu pelabuhan West Coast USA adalah Los Angeles CA.

Sumber:

http://tentangexportimport.blogspot.com/p/istilah2-umum.html







Rabu, 08 Juni 2016

Perhitungan biaya berdasarkan pesanan

Perhitungan biaya berdasarkan pesanan

1.1 Metode penilaian


Pesanan atau perhitungan biaya berdasarkan proses dapat didasarkan pada tiga alternatif metode penilaian, diantaranya : Aktual, Normal atau Standar.

Banyak perusahaan lebih memilih untuk menggunakan sistem biaya normal yang menggabungkan biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung aktual dengan tarif awal overhead yang telah ditentukan sebelumnya.

Dalam sistem biaya standar, norma atau standar unit dikembangkan untuk biaya atau kuantitas bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung. Overhead diterapkan untuk produksi yang menggunakan tingkat yang telah ditentukan untuk mempertimbangkan suatu stanar. Standar ini lalu dapat digunakan untuk merencanakan aktivitas masa depan dan kejadian biaya serta untuk menilai persediaan.

Sistem biaya standar mengizinkan perusahaan untuk mengenali secara cepat penyimpangan atau variasi dari biaya prosuksi yang diharapkan dan untuk mengoreksi masalah yang dihasilkan dari kelebihan penggunaan biaya. Sistem perhitungan biaya Aktual tidak menyediakan manfaat tersebut, dan sistem perhitungan biaya normal tidak dapat menyediakan hal itu dalam hubungannya dengan bahan baku dan tenaga kerja.

Meskipun sistem standar yang paling banyak digunakan dalam lingkungan yang dicirikan sebagai pabrikasi yang berulang, perhitungan biaya standar juga dapat digunakan dalam suatu sirkulasi pada lingkungan perhitungan biaya berdasarkan pesanan.

1.2 Sistem perhitungan biaya berdasarkan pesanan

Perhitungan biaya produk berkenaan dengan :

  • Identifikasi biaya
  • Pengukuran biaya
  • Penugasan biaya produk
Dalam sistem perhitungan biaya pesanan, biaya diakumulasi oleh pesanan. Pesanan adalah unit tunggal atau kelompok unit yang diidentifikasikan sebagai produksi untuk spesifikasi pelanggan yang berbeda.


Setiap pesanan dianggap sebagai kesatuan biaya atau objek biaya yang unik, biaya dari pesanan yang berbeda dicatat dalam jenis buku rekening berbeda yang terpisah dan tidak ditambahkan bersama dalam buku besar.

1.3 Perhitungan biaya berdasarkan pesanan (Detail dan Dokumen)

Pesanan dapat dikategorikan dengan tahap siklus produksinya, terdapat tiga tahap produksi :
  • Telah terkontrak namun belum dimulai
  • Dalam proses
  • Selesai
Karena perusahaan menggunakan perhitungan biaya berdasarkan pesanan membuat produk berdasarkan spesifikasi pemakai, terkadang pesanan membutuhkan bahan baku mentah khusus, sehingga beberapa bahan bahan baku mentah tidak dapat diperoleh sampai pesanan dibawah kontrak dan saat produksi tersebut diketahui akan berlangsung.

Formulir permintaan bahan

Untuk memulai psanan, formulir permintaan bahan (material requisition form) dipersiapkan sehingga bahan baku dapat dikeluarkan dari gudang dan dikirim menuju area produksi.

Dokumen sumber daya ini mengindikasikan jenis dan jumlah bahan baku yang akan dikeluarkan untuk produksi atau digunakan untuk menjalankan pesanan jasa.


Akun persediaan bahan mentah dapat terdiri dari biaya bahan baku langsung maupun tidak langsung. Ketika bahan baku ditetapkan, biayanya dikeluarkan dari persediaan bahan mentah, bila bahan baku dipertimbangkan langsung pada pesanan, biayanya ditugaskan pada persediaan WIP. Bila bahan bakunya tidak langsung, biayanya ditugaskan pada pengendali Overhead Manufaktur. Dengan demikian entri Jurnalnya adalah sebagai berikut :








Kertas lajur biaya berdasarkan pesanan

Sumber dokumen yang menyediakan semua informasi finansial secara benar mengenai pesanan tertentu adalah Kertas lajur biaya berdasarkan pesanan (Job Order Cost Sheet). Kumpulan kertas lajur biaya berdasarkan pesanan untuk semua pesanan yang belum selesai menciptakan buku besar pembantu persediaan barang dalam proses persediaan (WIP)

Kertas biaya berdasarkan pesanan sudah termasuk dengan nomor pesananan, deskripsi pesanan, identifikasi pelanggan, informasi penjadwalan beraneka ragam, perintah pengiriman dan harga kontrak serta rincian tentang biaya aktual untuk bahan baku, tenaga kerja dan overhead yang diterapkan.

Formulir juga memasukan informasi penganggaran biaya, khususnya bila informasi tersebut digunakan untuk meramalkan harga jual pesanan atau untuk mendukung harga penawaran. Dalam penawaran harga, anggaran dan biaya aktual harus dibandingkan pada akhir pesanan untuk menentukan adanya penyimpangan dari peramalan.


Kertas kerja waktu pegawai

Kertas kerja waktu pegawai (employee time sheet) mengindikasikan pesanan yang dikerjakan oleh tenaga kerja dan konsumsi waktu tenaga kerja langsung.









Overhead

Biaya overhead dapat menjadi hal penting dalam organisasi manufaktur dan jasa. Overhead aktual terjadi selama produksi dan didebit pada akun Pengendali Overhead Manufaktur. Bila Overhead aktual diterapkan pada pesanan, akuntan biaya akan menunggu sampai akhir periode dan memisahkan overhead aktual yang terjadi dalam setiap kolom biaya yang dibentuk oleh ukuran aktivitas atau pengendali biaya untuk menghasilkan tingkat aplikasi.

Perhitungan biaya normal digunakan, dan overhead diterapkan pada pesanan dengan satu atau lebih tingkat perhitungan overhead tahunan. Overhead ditugaskan pada pesanan dengan memperbanyak tingkat yang ditentukan oleh ukuran aktual dengan dasar aktivitas yang terjadi untuk setiap pesanan selama periode berjalan. Bila pesanan selesai dalam periode tertentu, overhead harus diterapkan pada waktu tersebut sehingga persediaan WIP pada laporan posisi keuangan akhir periode akan terdiri dari tiga elemen produk (bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan overhead).








Penyelesaian Produksi

Ketika pesanan selesai, total biayanya ditambahkan (didebit) pada persediaan barang jadi dan dipindahkan dari (dikredit) persediaan barang dalam proses (WIP).

Kertas lajur biaya berdasarkan pesanan untuk pesanan yang telah selesai dipindahkan dari sub buku besar Persediaan WIP dan menjadi sub buku besar untuk akun pengendali persediaan Barang Jadi.

Ketika pesanan dijual, biayanya ditransfer dari persediaan Barang Jadi ke Harga Pokok Penjualan. Kertas kerja biaya pesanan kemudian menjadi sub catatan untuk Harga Pokok Penjualan.










Kebanyakan bisnis yang menggunakan perhitungan biaya berdasarkan pesanan tidak memiliki Persediaan Barang Jadi karena produksi hanya berlangsung ketika terjadi kontrak pelanggan spesifik untuk produk atau jasa tertentu. Setelah selesai, biaya produk atau jasa dapat segera mengalir ke Harga Pokok Penjualan.

Ilustrasi Perhitungan Biaya Berdasarkan Pesanan

Dean’s Custom Fabricasting membangun dasar harga dalam biaya yang terjadi. Melalui jangka waktu panjang, tujuan perusahaan adalah untuk mewujudkan keuntungan kotor sama dengan 20 persen dari penerimaan penjualan. Tingkat keuntungan kotor ini cukup untuk mengkasilkan keuntungan yang masuk akal setelah menutupi biaya penjualan dan administratif. Dalam ruang lingkup yang kompetitif, seperti ketika perusahaan memiliki terlalu banyak kapasitas yang tidak berguna, harga dan margin kotor dapat dikurangi untuk meningkatkan kemungkinan mendapatkan kontrak pesanan. Dean’s Custom Fabricasting memiliki sedikit kapasitas yang tak berguna, sehingga perusahaan membentuk harga agak tinggi untuk mengurangi kemungkinan berhasilnya kontrak yang terlalu banyak.

Untuk membantu dalam pembentukan harga untuk Willowdale Homeowners’ Association, akuntan biaya Dean’s menyediakan manajer penjualan dengan informasi anggaran biaya yang ditampilkan lebih dahulu dalam Tampilan 5-4. Manajer penjualan percaya bahwa harga jual normal telah sesuai dan kemudian membentuk harga jual untuk menghasilkan margin kotor kurang lebih 20% [($35.250 - $28.200) : $35.250)]. Pelanggan menyetujui harga jual ini dalam kontrak tertanggal 13 Agustus 2008. Manajer prosuksi Dean’s menjadwalkan pemesanan dimulai pada tanggal 1 September 2008, dan akan diselesaikan pada 15 November 2008. Pemesanan ditugaskan dengan nomor PF108 untuk tujuan identifikasi.

Entri jurnal di bawah ini menggambarkan arus biaya untuk departemen pabrikasi selama September 2008. Pemesanan dalam beberapa pesanan, termasuk pesanan #PF108, dijalankan selama bulan tersebut. Dalam entri 1, 2 dan 4 dalam daftar yang mengikuti, akun persediaan WIP yang terpisah ditunjukkan untuk biaya yang berhubungan dengan pesanan #PF108 atau pesanan lainnya. Dalam praktiknya, akun Persediaan Pesanan dalam Proses untuk departemen yang berwenang akan di debit hanya sekali untuk semua penugasan biaya padanya. Detail untuk posting ke catatan biaya pesanan tunggal akun ditampilkan pada penjelasan entri jurnal.

  • Selama September 2008, daftar permintaan bahan baku #L40-L55 mengindikasikan bahwa bahan mentah tersebut membutuhkan biaya $5.420 yang dikeluarkan dari gudang ke departemen pabrikasi. Jumlah ini termasuk $4.875 bahan baku langsung yang digunakan pada pesanan #PF108 dan $520 bahan baku langsung yang digunakan pada pesanan lainnya. Sisa $25 dari bahan mentah yang dikeluarkan selama September adalah tidak langsung.

  • Kertas kerja waktu dan ringkasan daftar gaji bulan September untuk pekerja departemen pabrikasi digunakan untuk menjajaki tenaga kerja langsung dan tidak langsung pada departemen tersebut. Total biaya pada tenaga kerja untuk departemen pabrikasi untuk bulan September  adalah $9.599. Pesanan #PF108 membutuhkan $6.902 biaya tenaga kerja langsung yang dikombinasikan dengan dua periode pembayaran per dua minggu pada bulan September. Sisa pesanan dalam proses membutuhkan $1.447 buaya tenaga kerja langsung, dan biaya tenaga kerja tidak langsung untuk satu bulan berjumlah $2.150.

  • Departemen pabrikasi menjadikan biaya overhead sebagai tambahan pada tenaga kerja langsung dan tidak langsung selama bulan September. Depresiasi  gedung pabrik dan peralatan sebesar $2.500 telah dicatat. Asuransi gedung pabrik ($200) untuk satu bulan telah dipersiapkan dan telah berakhir. Tagihan biaya keperluan gedung sebesar $1.900 telah diterima dan akan dibayar pada bulan Oktober. Biaya perbaikan dan pemeliharaan sebesar $800; biaya tersebut di kredit pada “Akun rupa-rupa” untuk tujuan penggambaran. Entri dibawah ini meringkasi akumulasi dari biaya overhead aktual lainnya tersebut untuk bulan September.
  • Dean’s mempersiapkan laporan keuangan bulanan. Untuk melakukannya, Persediaan Barang dalam Proses harus termasuk semua biaya produksi: bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead. Perusahaan mengalokasikan overhead ke departemen pabrikasi Persediaan WIP berdasarkan dua tingkat perhitungan overhead: $12 per jam tenagga kerja langsung dan $30 per jam mesin. Pada bulan September, tenaga kerja mengonsumsi 260 jam kerja tenaga kerja lagsung pada Pesanan #108, dan 65 jam mesin yang dikonsumsi pada pesanan tersebut. Pesanan lain yang berlanjut selama bulan ini menerima total overhead yang diterapkan sebesar $900 [25 jam tenaga kerja langsung (asumsi) x $12] + [20 jam mesin (asumsi) x $30].
Perhatikan bahwa jumlah aktual overhead bulan september sebesar $5.900 pada departemen pabrikasi adalah tidak sebanding dengan jumlah $5.970 overhead yang diterapkan pada departemen Persediaan Barang dalam Proses. Perbedaan $70 ini adalah biaya overhead yang terlalu dibebankan untuk bulan tersebut. Karena perhitungan awal tingkat overhead didasarkan pada peramalan tahunan, maka perbedaan dalam overhead aktual dengan yang diterapkan diakumulasikan selama satu tahun. Overhead yang kurang atau lebih dibebankan akan ditutup (seperti yang ditunjukkan pada Bab 3) di akhir tahun pada Harga Poko Penjualan (bila jumlah abstraknya) atau dialokasikan diantara akun Persediaan Barang dalam Proses, Persediaan Barang Jadi, dan Harga Pokok Penjualan (bila jumlahnya nyata)
Entri terdahulu untuk departemen pabrikasi akan serupa dengan entri yang dibuat dalam tiap departemen lain pada Dean’s Custom Fabricating. Data bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung diposting pada setiap kertas lajur biaya berdasarkan pesanan secara berkali – kali (biasanya harian atau mingguan); entri di posting akun pengendali buku besar untuk jangka waktu yang lebih panjang (biasanya bulanan).

Pesanan #PF108 akan berurutan melewati tiga departemen Dean’s Custom Fabrication. Dalam jenis lan toko pesanan , departemen berbeda dapat bekerja pada pesanan yang sama secara bersamaan. Entri serupa untuk pesanan #PF108 dibuat seluruhnya dalam proses produksi, dan Tampilan 5 – 7 menunjukkan kertas kera biaya pada penyelesaian pesanan. Ingat bahwa daftar permintaan bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan penerapan overhead telah dijelaskan terlebih dahulu pada entri 1, 2 dan 4 di posting dalam kerta kerja lajur biaya berdasarkan pesanan berdasarkan pesanan pada Tampilan 5 – 7 , tapi detailnya tidak disertakan pada diskusi ini.

Ketika pesanan selesai, biayanya ditransfer ke Persediaan Barang Jadi. Entri jurnal yang berhubunggan dengan transfer di antara departemen maupun penyelesaian dan penjualan barang adalah sebagai berikut:

Para manajer di semua departemen dapat menggunakan kartas lajur biaya berdasarkan pesanan yang selesai untuk menentukan bagaimana sebaiknya biaya terkendali. Secara keseluruhan, biaya berada sedikit dibawah tingkat anggaran, yang mengindikasikan pengendali biaya efektif, khususnya pada departemen  pabrikasi.

Sebagai pengingat bab ini, pengguna data perhitungan biaya berdasarkan pesanan adalah mendukung pembuat keputusan manajemen dan memperbaiki pengendali biaya yang dibicarakan. Biaya berikutnya akan membicarakan bagaimana biaya standar, bila dibandingkan dengan biaya aktual dapat digunakan untuk memperbaiki manajemen biaya.


Bersambung.....